Written on 8:09 AM by daristya
Somebody told me this kind of question. Then he answered it soon. "No one is perfect. Will you try to find a perfect one? Believe me, you will never find it! The best thing we should do is to accept wisely an 'unperfect' person, with 'very perfect' ways. That is the real meaning of PERFECT, also the one who is Perfect.
Written on 3:54 PM by daristya
It had been a long time since the first time I learn English. It was a great experience. Although I just sang a simple song with my classmates, such as 'Climbing The Mountain', a song which was translated from Indonesians song. Another activities was counting the number from 1 to 10, introducing ourselves in front of the class that used very simple language, and some other activities. It happened when I was in Elementary school, in the 6th grade. Even, at that time we did not know anything about Tenses, Nouns, Subjects, or even Verbs. However, we still enjoyed learning English.
Then, when I continued my study in the Junior High school, I felt that I was interested in English more than before. I thought that English was not difficult as most of people thought about it. If we were interested in something that we do, we will love to do it. And it happened for my self. English is interesting to learn, and English is fun, too.Moreover, the teacher who taught us in class was so nice teacher. Her way of teaching English was loved by most of the students. That was why I, and most of my classmates, got a good mark in English.
In the senior high school, my comprehending in English was increasing a lot. From the experience that I had got in the Junior high school, and also from the courses that I had taken, I realized that English is very important. It is one of the International language that is most people in around the world use it, besides the another International language like Latin, Mandarin, an also French. However, from those International languages, English was the one that I loved most. Besides, English was also the only subject that I mastered most. It was proved by the mark that I got. English got the best result among other subjects like Math, Economic, or History.
After graduated from my senior high school, I decided to continue my study in a college. In order to pass the SPMB exam, first I had to take a course that included the subjects that were in the test. Besides, I had to improve my skill in English, too. When the exam was close, I decided to take English department.Both of them were in UM and UNEJ. Then finally, I passed the exam, and I was accepted in this wonderful university. English was helping me to pass the exam, because the most correct answer came from the English subject.
When I started studying in this university, I thought that I had mastered English more then the other students. In fact, I was behind them. My English skill was nothing. However, it did not make me to surrender. Even, it challenged me to learning English more than previously. Besides, I could learn English intensively with all of my friends. They could help me to improve my English quickly.
Now, it was eight years I have been learning English. As a journey to somewhere, we never got it easily. Sometimes, I have some troubles in learning English. One of them is about speaking. I have no bravery in speaking. However, I try to beat my fear in speaking everyday. I speak with my friend using English, or sometimes I try to imitate the pronunciation on the movie. And it works. Now my speaking is getting better. And I hope I will get no trouble in learning English, whether it is about speaking, listening, or the others.
Written on 9:10 PM by daristya
Lagi-lagi kalimat diatas menginspirasi saya, di saat saya melakukan hal yang sebaliknya. Kenyataannya benar bahwa tidak sedikit orang (termasuk saya kadang) yang tertawa di atas penderitaan orang lain. Kita merasa iri karena tidak bisa berbuat atau mendapatkan apa yang orang lain peroleh.
Tidak sepatutnya kita iri atau dengki terhadap keberhasilan orang lain. Justru seharusnya itu bisa menjadi pelecut semangat bagi kita untuk meniru keberhasilan mereka. Mereka berhasil karena mereka bekerja dengan maksimal menggunakan pikiran dan tenaga mereka. Tidakkah kita juga memiliki hal yang sama? Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk iri. Meskipun kita tidak punya kemampuan yang setara dengan mereka yang berhasil, minimal kita bisa mengikuti jejak mereka menjadi orang yang bisa menikmati suatu keberhasilan dari hasil kerja keras.
Kesedian yang kita dapat saat orang lai mendapatkan suatu keberhasilan adalah wujud lain dari sifat iri atau dengki. Harusnya kita tidak merasa iri terhadap apa yang orang lain peroleh. Yang seharusnya kita lakukan adalah meniru dan mencoba untuk mendapatkan hal yang serupa. Bisakah kita? Bisa!!
Terkadang kita sudah merasa ragu sebelum melakukan sesuatu. Mungkin itulah salah satu kekurangan yang kita miliki dan justru tidak dimiliki oleh orang yang mendapatkan keberhasilan atau yang biasa disebut sebagai Orang Sukses. Orang orang sukses tidak berpikir bahwa mereka akan gagal, tetapi mereka yakin bahwa mereka akan sukses. Jadi, apa yang seharusnya dan sepatutnya kita lakukan? Sederhana saja. Ikutlah ke dalam kegembiraan yang didapatkan oleh orang sukses, sehingga kita tahu apa rahasia kesuksesan mereka. Dan setelah kita tahu, kita berusaha untuk mau dan mampu melakukannya juga. Dalam beberapa tenggang waktu, kita akan sejajar dengan orang orang sukses.
Written on 12:57 AM by daristya
Mungkin inilah semboyan yang diusung oleh sebagian besar orang Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara pembajak terbesar nomor 4 (lo gak salah) di dunia. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas. Yang sebenarnya ingin saya bahas adalah meniru kebaikan yang orang lain atau bangsa lain miliki.
Sebenarnya, meniru itu lebih condong ke hal negatif. Tapi, tidak sebegitu parahnya. Selama kita meniru hal-hal yang baik, dan tidak merugikan orang lain, it's fine. Di samping itu, selagi meniru itu dapat mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, lakukan saja.
Tapi, berdasarkan dari fakta yang ada, orang-orang Indonesia (tidak terkecuali saya) justru sering meniru hal negatif yang dimiliki orang atau negara lain. Aneh, mengingat hal itu justru akan membawa banyak kerugian bagi kita. Tapi, itulah manusia. Banyak jalan yang benar dan menuntun, tapi mereka justru memilih jalan yang salah dan menyesatkan. Ironis!
Menurut pengamatan saya, mungkin hal-hal yang membuat orang tidak mau meniru adalah karena rasa malu mereka untuk meniru. Dengan meniru, terutama hal-hal baik, mereka berpikir bahwa mereka akan kehilangan harga diri mereka. Apalah makna harga diri apabila dibandingkan dengan pengembangan diri ke arah yang lebih baik? Malah, kalau menurut saya, harga diri itu akan menghalangi adanya perubahan dalam diri kita. So, we should ignore what we call 'harga diri'. But, little bit is fine!
Go back to the topic. Seharusnya kita tidak malu jika hanya sekedar meniru, terutam dalah hal baik. Kita harus menoleh kebelakang, untuk apa sebenarnya kita meniru, apa yang kita tiru, dan siapa yang kita tiru. Jika hal itu sudah tertanam dalam pikiran kita, sungguh beruntung kita. Dengan memanfaatkan peniruan (dalam hal positif), tidak ragu bila kita akan berkembang lebih cepat dari orang yang masih 'shy shy cat' dalam hal meniru kebaikan.
Written on 11:04 PM by daristya
Terkadang kita merasa bahwa kita tidak ingin memiliki suatu kelemahan. Tetapi itu adalah suatu hal yang mustahil bin impossible. Setiap orang pasti punya kelemahan, baik sedikit atau pun banyak. Tidak masalah bila melihat jumlah atau intensitas kelemahan seseorang. Yang penting adalah kemampuan dan kemauan untuk mengakui serta menyadari kelemahan yang ada dalam diri kita.
Kalau kita telaah kembali, kelemahan itu sendiri merupakan suatu anugerah yang sepatutnya kita syukuri. Kelemahan mendorong kita untuk berkreativitas dan menjadi lebih maju. Apabila kita menyadari bahwa kita ini masih punya banyak kelemahan, hal itu akan semakin memotivasi kita untuk menghilangkan kelemahan tersebut, atau bahkan menjadikan suatu kelemahan itu menjadi suatu kelebihan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain.
Apapun yang orang katakan tentang kekurangan kita, misalnya penghinaam atau apalah namanya, jangan pernah dipedulikan.
Mungkin saja orang yang menghina kekurangan kita tersebut juga memiliki kekurangan yang sama pula, atau bahkan lebih parah. Tapi, dia tidak mau mengubah dan membenahi kekurangan yang dia punya.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki apa-apa yang menjadi kelemahan kita. Jangan membuat kelemahan tersebut menjadi suatu batasan atau alasan bagi kita untuk berkreativitas dan beraktivitas. Jadikan kelemahan itu suatu pelecut semangat bagi kita untuk berkreasi. Apabila kita mengaplikasikan hal tersebut dengan baik, niscaya tidak akan ada lagi sesuatu yang bernama kelemahan di dalam diri kita. Karena kelemahan kita sudah berubah wujud menjadi suatu kelebihan baru bagi kita.